Home
Info
Sejarah...
Geografi...
Struktur Sosial...
Pemimpin Rakyat...
Pariwisata...
Bisnis...
Forum
Chat
Daftar Kata-kata
Daftar Buku
Links
Baca Buku Tamu
Teken Buku Tamu

Mohon bantu
dengan
sumbangan

Home >>Geografi >>Mencari Burung-burung Eksotik di Utara Minahasa

Mencari Burung-burung Eksotik di Utara Minahasa

BITUNG – Belantara Tangkoko tak cuma menyimpan satwa eksotik nan unik, seperti tarsius (Tarsius spectrum) dan monyet yaki (Macaca nigra), tetapi juga dihuni beragam jenis burung indah. Beberapa jenis di antaranya, hanya bisa ditemui di wilayah Sulawesi. Selamat datang di surga burung Minahasa bagian utara.


Tyto inexspectata Minahasa
Barnowl

“Tempat ini memang jadi salah satu incaran turis asing yang punya hobi birdwatching,”ujar David Kasegeran membuka obrolan. Para turis itu tak segan mengeluarkan bujet khusus untuk bisa mengamati burung di Tangkoko. Lantaran sering dikunjungi, para turis tak kesulitan mendapatkan pemandu berkualitas. Kabarnya, bila berhasil meneropong dan mengidentifikasi jenis langka uang tips bagi si pemandu bisa berlipat-lipat.
David berkata seperti itu karena sebelumnya, Sherly Ering – rekan kerja David di Wildlife Conservation Society – menjelaskan keinginan saya mengamati burung di kawasan yang punya nama resmi Cagar Alam Tangkoko-Duasudara. Kawasan lindung yang ini ada di ujung timur laut semenanjung utara Kotamadya Bitung, Sulawesi Utara. Dari Kota Manado, akses masuknya cukup mudah, meski perlu beberapa kali ganti angkutan umum lalu disambung jalan kaki ke stasiun riset milik WCS.
Kawasan lindung Tangkoko luasnya sekitar 3.196 km2. Letaknya yang gampang dicapai dari Kota Manado membuat Tangkoko sering jadi agenda utama para pengamat burung dunia. Terutama, bagi mereka yang cuma punya waktu sedikit untuk bertualang di Sulawesi Utara.
”Kalau mau mengintip burung, kita harus bangun pagi-pagi. Kita bisa mulai dengan pengamatan rangkong lalu kita lanjutkan dengan mencari raja udang,” kata Moh. Taufiq Soleman – ”kepala suku” stasiun riset WCS di Tangkoko, mengatur kegiatan. Sherly dan Bima Wijaya mengangguk setuju. Keduanya berjanji akan menemani saya.
Menghabiskan sisa malam bukan hal yang mudah. Rasanya sulit sekali memejamkan mata, sementara pikiran terus melayang sambil menyiapkan strategi pengamatan dan pemotretan burung. Maklum, ini kali pertama kunjungan saya ke Tangkoko.

Pengamatan Dimulai


Ceyx fallax -
Greenback Kingfisher
© Staffan Danielsson
Subuh menjelang. Langit di luar masih gelap. Saya terbangun tiba-tiba. Ingat dengan tujuan awal, saya keluar kamar. Ternyata, Vicky – sapaan akrab Moh. Taufiq Soleman – sudah bersiap diri. Ia juga sedang membangunkan Sherly dan Bima.
Sejurus kemudian, kami siap masuk hutan. Komando perjalanan dipegang Vicky. Paling belakang, ada Bima Wijaya. Rencana awal, mengintip tarsius lalu dilanjutkan mencari burung-burung eksotik. Sayang, seperti pernah diceritakan di harian ini sebelumnya, berjumpa tarsius bukan hal yang mudah (baca SH edisi Rabu, 4/8).
Kata Vicky dan Bima, kalau mau ketemu julang Sulawesi paling bagus di dekat pohon ara. Burung rangkong endemik Sulawesi ini paling doyan menyantap buah ara. Begitu masuk masa bertelur, julang Sulawesi membuat sarang yang unik di pohon tinggi. Pintu lubang sarang ditutup rapat.
Benar saja, di dekat pohon Ara pencekik, kami sempat mengintip julang Sulawesi jantan yang bertengger di pucuk dahan tinggi. Beberapa kali, kami juga mendengar kepakan berat sayap burung berukuran badan 104 cm di tajuk atas hutan tropis ini.
Pada jenis jantan terdapat ciri menonjol: tanduk merah tua, kepala, leher dan dada bungalan merah-karat. Sedangkan yang betina kepala dan leher hitam serta tanduk kuning lebih kecil.
Di tengah jalan, Vicky dan Bima berceloteh, ”Dengar itu, ada Ducula aenea (pergam hijau), srigunting jambul-rambut (Dicrurus hottentottus), pelatuk, malkoha dan jalak tunggir merah.” Berawal dari suara, akhirnya kami sempat melihat raga srigunting jambul-rambut dan jalak tunggir merah (Scissirostrum dubium). Untuk jenis yang terakhir, datangnya tak sendirian.
Srigunting jambul-rambut dan jalak tunggir merah termasuk burung yang paling mudah dijumpai di hutan Tangkoko. Khusus untuk Srigunting jambul-rambut, burung ini punya ciri yang mudah dikenali warnanya hitam berkilat dengan ekor bercabang panjang serta suara bergema kasar.
Burung ini dapat dilihat melesat dari dahan tempat bertenggernya untuk mencaplok serangga yang lewat. Srigunting tergolong agresif, suka bertarung dan sering memburu burung jenis lain yang lebih besar di kawasan pencarian makan.
”Srigunting sering terbang mengikuti kawanan Yaki,” kata Vicky. Usai buka catatan, terbukti sudah omongan itu. Dalam buku Sulawesi Utara: Sebuah Panduan Sejarah Alam, Margaret F. Kinnaird menjelaskan, srigunting bersama kadalan Sulawesi (Phaenicophaeus calyorhynchus) memanfaatkan keberadaan yaki untuk mencaplok serangga yang terhalau selagi monyet itu lewat di hutan.

Setengah Mati Cari Maleo


Maleo
Di Tangkoko, jangan harap bisa bertemu Maleo. ”Susahnya setengah mati,” kata Vicky. Pemilik nama ilmiah Macrochepalon maleo ini sulit dicari lantaran sering diburu manusia, entah itu telur-telurnya yang diambil atau daging untuk dikonsumsi. Telur maleo amat digemari orang. Maklum, ukurannya yang besar membuat orang sangat doyan menyantap sebagai sumber pangan.
Akibat perburuan yang menggila, maleo dimasukkan ke dalam kelompok burung Sulawesi yang paling terancam kepunahan. Para ahli biologi telah berhasil mengembangkan teknik penetasan telur maleo dan melakukan penyelamatan terhadap anak-anak burung ini. Lagi-lagi, mereka pun harus beradu cepat dengan tekanan para pemburu tadi.
”Bulan lalu, si Antri pernah lihat (maleo) tuh. Dia berpapasan waktu di dalam hutan,” ujar Vicky. Antri Kakauhe – rekan Vicky di WCS – senyum-senyum sambil menganggukkan kepala. Sayangnya, Antri tak mau merinci lokasi perjumpaan itu.
”Kalau mau puas lihat maleo, main saja ke Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Di sana, kamu juga bisa foto-foto lokasi peneluran maleo. Tempatnya bagus,” ajak Citto tanpa bermaksud membuat penasaran. Dia memang baru saja dipindah dari Tangkoko untuk bekerja di kawasan itu. Tugasnya, melakukan penelitian dan pengamatan biologi untuk WCS.
Tangkoko merupakan tempat yang bagus untuk mengamati tingkah laku burung raja udang. Burung-burung eksotik mudah ditemui di sini karena Tangkoko adalah pusat sebaran raja udang di Sulawesi. Kelompok burung raja udang dikenal sangat identik dengan perairan, namun beberapa jenis raja udang di Tangkoko hidup dalam hutan yang jauh dari perairan.
Menurut catatan Sunarto – pengamat burung kawakan yang bekerja di Conservation International Indonesia, ada 10 jenis burung raja-udang yang menghuni kawasan mungil Tangkoko. Lima di antaranya adalah jenis endemik Sulawesi alias tidak ditemukan di daerah lain di dunia kecuali Sulawesi. Saking uniknya, salah satu jenis yang hidup di sana yaitu raja-udang pipi-ungu (Cittura cyanotis) bukan hanya jenisnya tapi bahkan marga/genus-nya endemik di Sulawesi.
Dari ukurannya, sepuluh jenis raja-udang yang ada di Tangkoko sangat bervariasi. Ada udang-merah Sulawesi alias raja-udang kerdil Sulawesi (Ceyx fallax) yang mungil. Panjang total tubuhnya dari ujung paruh sampai ujung ekor hanya 12 cm. ”Kalau turis bisa lihat jenis ini, dia bisa royal kasih uang tips buat pemandunya,” tukas David Kasegeran yang diangguki Vicky dan Bima. Maklum, burung ini amat susah ditemui dan endemik Sulawesi.

(SH/bayu dwi mardana)p>

Sumber: Sinar Harapan

 


© 2004 by Roderick. All rights reserved.write comments to: